MUSIC FOR LIFE











{May 1, 2009}   Groupis

» GROUPIS Artis, Enaknya Dikit Sakitnya Lama

GROUPIS? Sebutan untuk “penggila/penggemar/fans berat” satu band atau artis ini, kini mulai disinggung-singgung lagi. Meski tak terang-terangan, tapi siapa sih yang tidak setuju adanya groupis di dunia hiburan?

Di luar negeri, groupis sudah menjadi bagian dari sebuah konser band besar. Tak usah besar, band-band tanggung pun sukses menuai gropis yang tidak sedikit. Malah pernah dikabarkan, salah satu band besar, selalu berpesta dengan groupis usai konser. Pesta apa? Tak jauh dari pesta seks dan narkoba.

Beberapa musisi luarnegeri yang “dekat” dengan groupis adalah Rolling Stones [baca: Mick Jagger], kemudian Aerosmith. Malah voalisnya sempat punya anak dari groupis yang kini menjadi bintang besar Hollywoord, Liv Tyler.

Groupis memang identik dengan seks. Hubungan laki-laki dan perempuan yang mengidolakannya. Meski mungkin juga terjadi sebaliknya, laki-laki yang ngefans dengan musisi perempuan dan terobsesi untuk bercinta dengan si artis.

Bagaimana di Indonesia? Setali tiga uang, alias sama saja. Anggapan bahwa anak band selalu melakukan hubungan dengan penggemarnya, begitu kental di benak kita. Tidak sedikit fans yang “rela” diajak tidur, asal oleh musisi yang dikaguminya. Hebatnya, ketika mereka berhasil tidur dengan si artis, hal itu menjadi semacam kebanggaan kepada teman-temannya. Alamaaak!

Persoalan ini menjadi pembicaraan, ketika berita Ariel, vokalis Peterpan diberitakan menghamili pacarnya. Meski dalam sudut pandang yang berbeda, kejadian ini seolah menjadi “pembenaran” bahwa anak band biasanya “penjahat kelamin” alias suka main perempuan.

Memang, kita tidak bisa hantam kromo dengam menuduh semua band seperti itu. Tapi berkaca pada pengalaman penulis ketika mengikuti tur beberapa band, anggapan itu tampaknya mendekati kebenaran, meski tidak semua personil band melakukan hal yang sama.

Ada cerita, ketika itu salah satu band yang sedang naik daun diundang oleh SMU di salah satu daerah untuk mengisi acara pensi di sekolah tersebut. Penulis yang ikut dalam rombongan, melihat dengan jelas, semenjak di hotel tempat menginap, nyaris tidak waktu kosong untuk di artis istirahat. Pasalnya, anak-anak sekolah yang jadi panitia [kebetulan cewek semua –red], sudah ngantri untuk ngobrol dan ketemu dengan pujaannya. Selesai? Ternyata tidak. Beberapa diantaranya rela menunggu sampai malam dan kemudian masuk kamar , baru keluar besok paginya. Apa yang terjadi? Entahlah…

Kabarnya, sempat ada fans yang hamil lantaran kejadian-kejadian seperti itu. Lalu pertanggungjawabannya? Wah, repot kalau ditanya hal itu. Dari beberapa musisi yang penulsi tanya, rata-rata menjawab, tidak ada beban dengan apa yang mereka lakukan. Jangan tanya soal tanggungjawab, karena semua akan menghindar.

Kejadian lain lagi, salah satu band yang sudah mencetak seabrek hits sedang tur beberapa kota. Fans band ini memang kebanyakan cewek. Ketika di hotel, jangan tanya fans cewek yang nunggu. Dari sekedar minta tandatanganga, sampai menungu untuk ditiduri. Tinggal tunjuk, dan silakan masuk ke kamar. Kejadian selanjutnya, terserah merekaaaa…

Tak cuma band besar, band-band yang baru nongol pun menerima perlakuan yang “istimewa” tersebut. Seorang yang memegang event-organizer yang pernah memanggungkan S07, Padi, /riff, Ari Lasso, dll, di Yogya, sering dimintai sejumlah oknum band atau penyanyi untuk “cari ayam kampus” seusai acara. Mereka mau “beli”, meski gratisan pun sering bisa karena yang namanya groupis di daerah itu sudah pada nekat. Dengan artis belum begitu naik daun pun ikhlas diajak bobo.

SEORANG pelawak Yogya -untuk masih bujangan— mengakui “banyak penggemar sekarang ini suka nggasruk. Saya sering dikejar sampai kamar hotel. Memang, beberapa kali saya sempat khilaf, tapi sekarang saya berusaha tidak melakukannya lagi. Risikonya besar”.

Di daerah –konon– groupisnya lebih agresif. Mereka rela diapain saja, demi sang pujaan. Contoh-contoh di atas menjadi bukti dari “kegilaan” sesaat dan aji mumpung dari si artis yang sedang digandrungi.

Biasa? Lumrah? Atau sudah salah kaprah? Dari pengamatan penulis, tidak semua musisi bertingkah seperti itu. Banyak yang memilih berdiam diri di kamar, atau mengajak anggota keluarganya selama tur. Tapi penulis juga mencatat, ada musisi yang sudah berkeluarga, masih meluangkan waktu menjadi “penjahat kelamin” usai konser. Dan mereka enteng-enteng saja melakukan itu. Sudah biasa?

Jadi bagaimana menyikapi groupis? Susah menentukan batasannya, kecuali si artis punya manajer “bertangan besi” yang melarang aktivitas diluar konser. Tapi apakah itu efektif? Kalau sudah tidak tahan? Meminjam lirik lagu salah satu band asal Semarang, kalau memang sudah nggak tahan, ya cubitan-cubitan saja…. Mana tahaaaaan….[joko/foto: istimewa]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: