MUSIC FOR LIFE











{June 23, 2009}   Koes Plus

Anda lahir tahun berapa?

Hah, ada sensus penduduk nih? Yep, sensus penduduk generasi Koes Plus. Jika pada tahun 1972 – 1976 anda sudah berusia di atas 10 tahun, dan penggemar musik, maka sungguh keterlaluan jika anda tidak mengenal Koes Plus. Barangkali waktu itu anda tinggal di puncak gunung Jayawijaya, atau di rimba belantara Kalimantan. Jika anda tinggal di kota kecamatan saja, yang sudah bisa menangkap siaran radio, insyaallah anda tahu siapa itu Tony, Yok, Yon, dan Murry.

Saya tinggal di Yogya (kota yang jelas cukup maju, kota pelajar gitu loh …), punya radio di rumah, dan penggemar musik. Tahun 1973, saya kelas 1 SMP (Oh God … ! How old I am!), dan saya hafal hampir semua lagu-lagu Koes Plus. Begitu mabuknya saya pada lagu-lagu tiga pemuda ganteng anak Pak Koeswoyo itu, sehingga saya menuliskan lirik lagu-lagu Koes Plus di sebuah buku tulis, dan membuat gambar yang sesuai di bawahnya. Suatu ketika, saya membawa buku itu ke sekolah, dan menunjukkannya pada guru seni suara saya (ya ampun, cari perhatian banget deh!!). Pak Guru saya takjub (halah!) melihat buku itu, dan memamerkannya kepada seluruh anak di kelas. Sayang, sekolah saya adalah sekolah khusus putri, sehingga ‘karya hebat’ saya itu tidak mengakibatkan ada seorang murid lelakipun jatuh cinta kepada saya …. wahaha!

Koes Plus memang pantas disebut sebagai legenda musik pop Indonesia. Mereka telah menelurkan 89 album rekaman, terdiri atas 953 lagu yang semuanya mereka ciptakan sendiri! Saya ulang : 89 album dengan 953 lagu ciptaan mereka sendiri. Manakah ada grup musik yang bisa menyamai rekor mereka hingga saat ini?

img_0674

Tonny Koeswoyo, Murry, Yon Koeswoyo (berdiri) dan Yok Koeswoyo (duduk). Alamak, celana Tony itu hasil merobek bendera ya …

Koes Plus merupakan metamorfose dari Koes Bersaudara, grup musik beranggotakan empat pemuda keluarga Koeswoyo, yaitu Tony, Nomo, Yon dan Yok. Koes Bersaudara dibentuk pada tahun 1965, boleh dikata merupakan grup musik pop pertama di Indonesia. Musik mereka mengacu ke Beatles, grup musik yang sangat populer dari Inggris. Karena musik mereka dianggap berbau kapitalis, musik ‘ngak ngik ngok’, istilah Presiden Soekarno ketika itu, pada 1 Juli 1965 mereka dijebloskan ke penjara. Tanggal 29 September 1965, sehari sebelum meletusnya G 30 S PKI, mereka dibebaskan.

Pada tahun 1969, penggebuk drum Koes Bersaudara, Nomo, keluar dari grup untuk konsentrasi di bidang bisnis. Posisinya digantikan oleh Murry, dan grup Koes Bersaudara berganti nama menjadi Koes Plus. Nomo sempat masuk kembali ke grup ini, membuat Murry tersingkir dan pergi ke Jawa Timur, membentuk grup “Lemon Trees” bersama almarhum Gombloh. Tetapi hanya sejenak, Nomo kembali keluar, dan Tony menjemput Murry untuk diajak kembali bergabung memperkuat Koes Plus. Formasi Koes Plus ini bertahan hingga karier mereka surut pada tahun 80-an.

Koes Plus memang luar binasa … eh, luar biasa. Pada tahun 1974, mereka menelurkan 22 (catat : dua-puluh-dua) album rekaman. Lagu-lagu mereka memang sangat simpel dan mudah dicerna, baik lirik maupun melodinya. Banyak yang mengatakan lagu-lagu Koes Plus adalah lagu-lagu ‘tiga jurus’ , yang hanya memiliki kunci C-F-G. Tidak heran lagu-lagu mereka sangat mudah diterima masyarakat, bahkan sampai anak kecil pun bisa menyanyikan lagu-lagu  Koes Plus.

Selain merekam lagu-lagu pop, Koes Plus juga membuat lagu-lagu Jawa, seperti “Tul Jaenak”, “Ojo Nelongso”, dan lain-lain.  Bahkan lagu berirama keroncong pun mereka rambah, seperti salah satu judul lagu mereka, “Penyanyi Tua”.

img_0680Album keroncong Koes Plus, sama populer seperti album pop mereka

Beberapa waktu yang lalu, Kick Andy di Metroteve mengundang para musikus Koeswoyo sebagai tamu mereka. Setelah lewat 30 tahun lebih dari masa kejayaan mereka, Nomo, Yon, dan Yok memang sudah ‘ngunduri sepuh’. Tony sudah meninggal. Namun bersama Djon Koeswoyo, kakak tertua mereka yang tidak ikut bergabung dalam grup musik, mereka seolah ‘menyala kembali’ ketika didaulat untuk bernyanyi bersama.

img_0650Yon, Djon, Yok, dan Nomo menyanyikan lagu “Kembali” ciptaan Nomo. Karena lagu itu sudah lama, dan saking banyaknya lagu-lagu mereka, Yon harus membaca ‘kepekan’ lirik …

Tahun 80-an, Koes Plus mulai surut, digeser oleh grup musik dan penyanyi-penyanyi baru. Mereka masih membuat beberapa album, tetapi telinga saya sudah tidak begitu nyaman lagi menerima lagu-lagu mereka. Sesudah itu saya hampir tidak pernah lagi mendengarkan lagu-lagu Koes Plus. Kunci ‘tiga jurus’ C-F-G itu rasanya tak lagi memenuhi hasrat musikalitas saya. Saya beralih ke musik Paul Mauriat, Johann Strauss,  Mantovani, hingga The Three Tenors.

Sampai akhirnya nasib mempertemukan saya dengan Erwin Gutawa. Ya, Erwin adalah musisi ajaib yang tidak banyak dimiliki Indonesia. Beberapa hari yang lalu saya menemukan kaset “Salute to Koes Plus/Bersaudara” di sebuah toko kaset, berisi 19 lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus yang diaransemen ulang oleh Erwin Gutawa. Lagu-lagu Koes Bers/Plus ini dibawakan oleh penyanyi-penyanyi top seperti Andy /Rif, Armand Maulana, Ruth Sahanaya, Audy, Duta SO7, Rio Febrian, Syaharani, Glenn Fredly, Jamaica Cafe, dll. Beberapa lagu bahkan dimainkan oleh The Victorian Philharmonic Orchestra Australia (VPOA). Album ini sudah cukup lama keluar, yaitu pada tahun 2004 (wedew … kemana aja saya selama ini?).



et cetera
%d bloggers like this: